Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor
(0251) 8631238
admin@gskbb-biosphere.org

Demplot dan Penciptaan Nilai Tambah Bagi Penghidupan Masyarakat

Selain sebagai kawasan konservasi yang melindungi ekosistem beserta kekayaan hayati dan sumber genetik di dalamnya, Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) juga dikembangkan sebagai laboratorium alam untuk berbagai penelitian dan katalis penggerak ekonomi masyarakat di sekitarnya. 

Keunikan cagar ini antara lain adalah fenomena sosial adalah kronologi terbalik dari status kawasan eksploitasi yang diintervensi untuk kepentingan manusia, menjadi kawasan dengan status konservasi yang dibiarkan berkembang secara alamiah. Fenomena ini tentunya berbeda dengan berbagai kasus yang terjadi di kawasan konservasi lain yang menunjukkan proses perubahan dari kawasan konservasi menjadi kawasan eksploitasi.

Berdasarkan Laporan Periodic Review Cagar Biosfer GSK-BB oleh The Indonesian Man and Biosphere Programme National Committee Tahun 2022, populasi manusia di kawasan cagar biosfer telah meningkat cukup pesat akibat pengembangan hutan tanaman industri dan industri kelapa sawit di zona penyangga dan zona transisi. Jumlah penduduk pada laporan tersebut mencapai 120.904 jiwa, meningkat signifikan dibandingkan angka sebelumnya sekitar 40.000 jiwa pada saat pembentukan Cagar Biosfer GSK-BB tahun 2009.

Sumber pendapatan utama masyarakat berasal dari pertanian karet, kelapa sawit, dan padi. Tekanan terhadap Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu berupa ancaman perubahan penggunaan lahan di zona inti dan penyangga dapat terjadi apabila tidak ada pengendalian dalam pengelolaannya. Untuk itu, diperlukan suatu terobosan dan keterpaduan untuk setiap aspek pengelolaan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu, sehingga dapat menjadikan cagar biosfer ini sebagai salah satu model pengelolaan lahan dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan di Indonesia

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) bekerja sama dengan International Tropical Timber Organization (ITTO) melaksanakan program “Enhancing the Implementation of Landscape Management of Giam Siak Kecil-Bukit Batu Biosphere Reserve in Riau Province of Sumatra Island, Indonesia”. Tujuan utama program ini adalah Meningkatkan kerangka kerja perencanaan, menguatkan kapasitas kelembagaan dan dukungan pada stakeholder dalam pengelolaan.

Beberapa langkah yang dilakukan meliputi penyusunan Integrated Strategic Management Plan (ISMP) 2025– 2029, penguatan kapasitas kelembagaan, pengembangan sistem informasi berbasis website dan database, proposal pendanaan, revitalisasi forum koordinasi, serta pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan, plot percontohan, program pendapatan berkelanjutan.

Pengembangan pertanian

Dalam pengembangan plot percontohan, terdapat kisah inspiratif dari seorang ibu rumah tangga yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap pengelolaan sumber daya alam. Tutik Sarinum, seorang penyuluh swadaya pertanian yang mengelola Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya (KTW MJ), mengungkapkan bagaimana pemberdayaan masyarakat, khususnya para wanita di Desa Temiang, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, dapat membawa perubahan yang signifikan dalam meningkatkan perekonomian lokal dan konservasi lingkungan.

Tutik Sarinum, yang kini berusia 42 tahun, telah menjadi motor penggerak perubahan di desa tersebut. Sebagai ibu rumah tangga dengan seorang anak lajang, ia bersama kelompok tani yang dipimpinnya berusaha untuk mengajak ibu-ibu beralih ke kegiatan pertanian yang lebih ramah lingkungan. “Perlahan-lahan, saya mencoba menyadarkan ibu-ibu yang suaminya terlibat dalam praktik ilegal logging. Saya tunjukkan bagaimana bertani bisa memberikan hasil yang lebih baik dan lebih berkelanjutan,” tutur Tutik.

Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan lahan sawit yang ditumpangsarikan dengan tanaman lain, seperti kopi dan pembuatan demplot padi di zona transisi Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu. Program ini memberikan keterampilan baru kepada masyarakat, membuka peluang penghasilan tambahan, serta meminimalisir kerusakan lingkungan akibat konversi hutan menjadi lahan sawit.

Salah satu hasil dari upaya mereka adalah demplot padi yang kini menjelang panen perdana. Dengan luas lahan 2 hektare, hasil yang diperoleh diharapkan mencapai sekitar 4-5 ton per hektare. Tutik mengatakan bahwa demplot ini menunjukkan bahwa bertani dengan cara yang benar dapat memberikan hasil yang menguntungkan, tanpa merusak alam. “Ini akan menjadi hasil yang luar biasa, mengingat ini adalah tahun pertama kami menanam padi di lahan bersama,” ujarnya dengan senyum bangga.

Selain padi, kelompok tani ini juga mengembangkan tanaman kopi yang ditanam secara tumpang sari di antara tanaman karet dan sawit. Tutik menyebutkan bahwa kopi yang ditanam telah menunjukkan hasil yang baik, meskipun baru memasuki usia 3 tahun. 

“Kami menanam kopi di lahan tumpangsari karet dan sawit, dan hasilnya sangat bagus. Sekarang, kopi kami sudah dipasarkan, bahkan Pekanbaru sudah mengambil sekitar 60 ribu per kilogram dari hasil panen kami,” katanya.

Salah satu yang paling berkembang adalah pembibitan kopi. “Dari tahun 2021 jual bibit kopi, udah sampai ke Siak, Rupat, hingga Pulau Bengkalis. Kami sudah menjual puluhan ribu bibit yang ditanam di belakang rumah. Saat ini kami akan lebih fokus dengan membangun rumah pembibitan bersama.

Selain kopi, kelompok tani ini juga mengembangkan jahe merah yang telah diproses menjadi bubuk jahe. Lahan seluas setengah hektare kini telah menghasilkan produk yang siap dijual, dengan banyak permintaan dari pasar. Keberhasilan ini tidak terlepas dari bantuan yang mereka terima, baik dalam bentuk bibit maupun pelatihan dari berbagai pihak, termasuk dari Kementerian Kehutanan dan BRGM sebelumnya.

Pemberdayaan masyarakat tidak hanya berhenti pada pertanian, namun juga meliputi peningkatan keterampilan lain seperti membatik dan pembuatan makanan olahan. “Dengan mengembangkan keterampilan, kami tidak hanya mengandalkan hasil pertanian, tetapi juga bisa membuat produk-produk lokal yang memiliki nilai tambah. Sehingga perekonomian masyarakat pun meningkat,” ungkap Tutik.

Program-program ini telah memberikan dampak positif yang signifikan. Anggota kelompok tani, kini mendapatkan penghasilan tambahan, dengan rata-rata pendapatan sekitar 1 juta per bulan ketika panen. Tutik menjelaskan bahwa pendapatan tersebut didapatkan dari berbagai aktivitas seperti pembibitan, produksi bubuk jahe, serta pelatihan keterampilan lainnya.

Pembibitan Pohon Keras

Meskipun sudah banyak kemajuan yang dicapai, Tutik dan kelompok tani masih menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam hal keuangan yang tidak stabil dan keterbatasan akses terhadap bantuan. “Kami berharap dari Kemhut (Kementerian Kehutanan) bisa memberikan bantuan bibit jahe dan dukungan untuk budi daya lainnya, agar kami bisa terus berkembang,” tuturnya.

Salah satu rencana masa depan, menurut Tutik adalah pembibitan pohon keras. “Bibit ini kami rencanakan untuk penghijauan di lahan cagar, termasuk edukasi pada warga dan pengunjung dengan mengajak melakukan penghijauan,” paparnya. 

Rumah produksi

Program P2SEMH dan ITTO juga membangun rumah produksi untuk kelompok tani Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya. Rumah ini menjadi pusat kewirausahaan lokal yang dimanfaatkan oleh Tutik dan anggotanya untuk berbagai kegiatan produksi seperti bubuk jahe merah, beras kencur, ecoprint, dan juga tempat diskusi untuk pengembangan usaha dengan dinas terkait. Rumah ini juga menjadi tempat para pihak, seperti mahasiswa dan kelompok tani lain untuk belajar dari pengalaman Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya. 

Tutik optimis bahwa Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya akan terus maju. Mereka telah membuktikan bahwa dengan mengubah pola pikir dan memanfaatkan lahan secara berkelanjutan, mereka dapat meningkatkan perekonomian dan kualitas hidup masyarakat setempat.

Kisah Tutik Sarinum dan Kelompok Tani Wanita Makmur Jaya adalah contoh nyata bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat memberikan dampak besar dalam keberlanjutan lingkungan dan peningkatan perekonomian lokal. Melalui keberhasilan dalam mengembangkan pertanian, mereka telah menginspirasi banyak pihak untuk lebih peduli terhadap kelestarian alam dan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. “Sekarang, bapak-bapak sudah mulai bertanya-tanya bagaimana membangun kelompok tani juga, mereka sudah mulai tertarik,” katanya. *

Penulis: Dyah Puspasari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *