Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor
(0251) 8631238
admin@gskbb-biosphere.org

Meningkatkan Pengelolaan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu untuk Pembangunan Berkelanjutan

Oleh: PMU ITTO PD 712/13 Rev.3 (F)

Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu (GSK-BB) diakui oleh dunia sebagai kawasan yang memiliki nilai ekologis dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Pada tahun 2009, GSK-BB resmi menjadi cagar biosfer yang diakui oleh UNESCO dalam program Man and the Biosphere (MAB), menjadikannya cagar biosfer ketujuh dari 21 cagar biosfer di Indonesia. Terletak di pantai timur Pulau Sumatra, kawasan ini melindungi salah satu ekosistem lahan gambut tropis yang terpenting di Indonesia, yang juga berperan dalam penyimpanan karbon dan air.

GSK-BB tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk melindungi keanekaragaman hayati dan sumber daya alam, tetapi juga sebagai laboratorium alam yang mendukung berbagai penelitian. Cagar biosfer ini menggabungkan berbagai elemen, mulai dari industri kayu berkelanjutan, pertanian, hingga pemukiman masyarakat lokal yang bergantung pada sumber daya alam untuk mata pencaharian mereka. Namun, di tengah kekayaan alam tersebut, GSK-BB menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pengelolaan kawasan yang terancam oleh ekspansi industri dan peningkatan jumlah penduduk.

Tantangan Pengelolaan dan Peningkatan Populasi

Sejak ditetapkan sebagai cagar biosfer, jumlah penduduk di sekitar GSK-BB telah meningkat signifikan. Pada tahun 2022 berdasarkan Laporan Periodic Review Cagar Biosfer GSK-BB oleh The Indonesian Man and Biosphere Programme National Committee, populasi kawasan ini mencapai 120.904 jiwa, sebuah lonjakan besar dibandingkan dengan 40.000 jiwa pada awal pembentukan. Masyarakat di sekitar kawasan ini banyak yang bergantung pada pertanian kelapa sawit, karet, dan padi sebagai sumber pendapatan utama. Namun, peningkatan jumlah penduduk dan ekspansi industri, seperti hutan tanaman industri dan kelapa sawit, dapat mengancam keseimbangan ekosistem yang ada, terutama di zona inti dan penyangga.

Hal ini menuntut adanya pengelolaan yang lebih terpadu dan berkelanjutan agar GSK-BB dapat terus berfungsi sebagai kawasan konservasi yang efektif, sekaligus mendukung pembangunan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya.

Pendekatan Terpadu 

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) bekerja sama dengan International Tropical Timber Organization (ITTO) untuk memperkuat pengelolaan GSK-BB. Salah satu langkah utama dalam pengelolaan ini adalah penyusunan Rencana Pengelolaan Terpadu (Integrated Strategic Management Plan/ISMP) 2025–2029. Rencana ini mencakup 11 program dan 97 kegiatan yang melibatkan 41 pihak terkait, termasuk pemerintah dan masyarakat setempat, dalam pengelolaan tiga zona utama: zona inti, penyangga, dan transisi.

Pengembangan sistem informasi berbasis website dan database juga merupakan langkah penting untuk memperlancar koordinasi, monitoring, evaluasi, dan publikasi kegiatan pengelolaan. Selain itu, revitalisasi Forum Koordinasi dan Komunikasi Pengelolaan GSK-BB menjadi langkah strategis untuk meningkatkan sinergi antar-pemangku kepentingan dalam merumuskan rencana kerja dan memastikan keberlanjutan pengelolaan kawasan.

Pemberdayaan Masyarakat dan Dukungan Ekonomi

Pemberdayaan masyarakat menjadi komponen vital dalam pengelolaan GSK-BB. Melalui pelatihan keterampilan praktis, seperti budidaya lebah madu, pertanian organik, dan pembuatan batik, masyarakat tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka, tetapi juga berperan dalam menjaga kelestarian ekosistem sekitar. Selain itu, pembuatan demplot percontohan dan sistem pemasaran berbasis offtaker turut mendukung keberlanjutan pendapatan masyarakat, sekaligus mengurangi ketergantungan mereka pada eksploitasi sumber daya alam yang merusak.

Selain itu, untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat, P2SEMH mengadakan kampanye publik dan sosialisasi pendanaan untuk mendukung partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan kawasan. Sistem pendanaan kecil (small grant) berbasis hasil kontribusi (RBC) juga dipromosikan untuk mendorong masyarakat lebih berperan serta dalam pengelolaan biosfer.

Dukungan terhadap Keberlanjutan dan Adaptasi Perubahan Iklim

Cagar Biosfer GSK-BB juga berfungsi sebagai model penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Sebagai kawasan yang memiliki ekosistem gambut, GSK-BB berperan dalam menyimpan karbon yang penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Salah satu sasaran utama dalam pengelolaan GSK-BB adalah mendukung pencapaian target nasional FOLU Net Sink 2030, yang berfokus pada penurunan emisi karbon di sektor kehutanan dan penggunaan lahan.

Selain itu, GSK-BB menjadi pusat penelitian terkait perubahan iklim dan dinamika ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi adaptasi yang dapat diterapkan di berbagai kawasan lain yang menghadapi tantangan serupa, baik di Indonesia maupun di tingkat global.

Kerja sama antara P2SEMH dan ITTO di GSK-BB merupakan contoh konkret dari kolaborasi internasional dan nasional dalam pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Dengan pendekatan pengelolaan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berbasis pada kolaborasi lintas sektor, GSK-BB tidak hanya memperkuat konservasi keanekaragaman hayati, tetapi juga mendukung pembangunan ekonomi yang inklusif bagi masyarakat lokal.

Melalui pengelolaan berbasis bentang alam terpadu, yang meliputi konservasi ekosistem, pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan penguatan kelembagaan, GSK-BB tidak hanya menjadi benteng terakhir bagi ekosistem gambut Sumatera, tetapi juga menjadi model global bagi pengelolaan kawasan yang harmonis antara manusia dan alam.

Cagar Biosfer GSK-BB tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai contoh bagaimana pengelolaan lahan dapat mengintegrasikan perlindungan alam dengan kesejahteraan masyarakat. Model pengelolaan yang terintegrasi dan berkelanjutan ini dapat menjadi acuan bagi kawasan-kawasan lain yang berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *