Jl. Gunung Batu No. 5 Bogor
(0251) 8631238
admin@gskbb-biosphere.org

Mengenal Keunikan Cagar Biosfer GSK-BB

Cagar biosfer adalah wilayah atau kawasan yang terdiri atas daratan, perairan, dan pantai yang berfungsi untuk mencapai keselarasan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati, sosial, dan ekonomi berkelanjutan, yang diharapkan dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB) merupakan salah satu dari 20 cagar biosfer di Indonesia, dari keseluruhan 785 cagar biosfer dunia yang tersebar di 142 negara (per September 2025). 

Status Cagar Biosfer GSK-BB sebagai cagar biosfer dunia resmi ditetapkan pada tanggal 26 Mei 2009 melalui sidang ke-21 International Coordinating Council (ICC) Man and Biosphere (MAB) UNESCO di Jeju, Korea Selatan. Status cagar biosfer adalah label yang diberikan oleh UNESCO untuk membantu melindungi situs dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan di kawasan tersebut.

Cagar Biosfer GSK-BB merupakan lanskap strategis di Provinsi Riau sebagai bagian dari Jaringan Dunia Cagar Biosfer. Dengan luas 705.721 hektare (ha), kawasan ini mencakup tiga area zonasi pengelolaan, yaitu area inti, area penyangga, dan area transisi. 

Area inti seluas 178.722 ha meliputi kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil dan Suaka Margasatwa Bukit Batu ditambah hutan produksi yang masih alami, sebagian di antaranya merupakan areal konsesi perizinan berusaha pemanfaatan hutan Sinar Mas Forestry (SMF) dan mitranya yang tidak akan dikonversi. 

Area penyangga yang mengelilingi area inti merupakan areal hutan produksi seluas 222.426 ha, terdiri atas areal konsesi PBPH-HTI mitra Sinar Mas Forestry dan kawasan hutan yang tidak dibebani izin. Di bagian terluar, merupakan area transisi seluas 304.123 ha berisi kawasan budi daya perkebunan karet (Hevea brasiliensis Muel. Arg) dan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), lahan pertanian, permukiman, dan infrastruktur.  

Ekosistemnya didominasi gambut tropis dalam (>4 meter) yang berfungsi sebagai carbon sink (menyimpan 44,3 juta ton CO₂) dan regulator hidrologi. Keanekaragaman hayatinya meliputi 189 spesies flora, 156 spesies burung, serta satwa kunci terancam punah seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus).

Cagar Biosfer GSK-BB memiliki beberapa keunikan, antara lain usulan yang muncul dari pihak swasta, ketika APP Sinarmas mengusulkan penggabungan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil (±75.000 ha), Suaka Margasatwa Bukit Batu (±24.800 ha), dan area penyangga seluas 72.255 ha sebagai calon cagar biosfer kolaboratif.  Usulan tersebut mendapat sambutan positif dari berbagai pihak yang menekankan pentingnya pendekatan multipihak dalam pengelolaan kawasan konservasi. Dukungan ini menjadi landasan penting dalam meyakinkan pemerintah pusat dan lembaga konservasi internasional.

Kekayaan lanskap 

Cagar Biosfer GSK-BB memiliki karakteristik ekologis dan geografis yang sangat khas dan menjadikannya salah satu kawasan penting dalam konservasi alam di Indonesia. Kawasan ini mencakup luas lebih dari 705.721 ha, terdiri atas hutan hujan tropis dataran rendah, hutan gambut dalam, lahan basah, dan sistem perairan seperti danau dan sungai gambut. Kombinasi ekosistem ini membentuk lanskap yang kompleks dan kaya secara ekologis.

Karakteristik fisik dan fungsi ekologis Cagar Biosfer GSK-BB menjadikannya salah satu benteng terakhir ekosistem gambut tropis di Asia Tenggara. Keberadaan dan pelestariannya tidak hanya berdampak bagi kawasan lokal, tetapi juga bagi kesehatan lingkungan di tingkat nasional dan global.

Studi struktur dan komposisi flora di area inti Cagar Biosfer GSK-BB dilakukan oleh LIPI pada 2007 melaporkan sedikitnya terdapat 189 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 113 marga dan 59 suku. Jumlah tersebut termasuk tiga jenis dari kelompok tumbuhan paku dan sebanyak 186 jenis termasuk dalam tumbuhan berbunga (Spermatophyta) yang tergolong dalam 110 marga dan 56 suku. Flora khas hutan gambut seperti meranti, ramin, dan jelutung juga tumbuh subur di kawasan ini, memperkaya nilai ekologis dan ekonomisnya.

Keanekaragaman hayati di Cagar Biosfer GSK-BB sangat luar biasa. Kawasan ini menjadi habitat alami bagi berbagai spesies langka dan terancam punah seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), dan berbagai jenis primata serta burung endemik. 

Dilaporkan kelompok mamalia besar yang pernah ditemui di antaranya adalah beruang madu (Helarctos malayanus), rusa sambar (Cervus Unicolor), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), lutung kelabu (Trachypithecus cristatus), dan ungko (Hylobates agilis).

Kawasan lanskap Siak Kecil mempunyai kekayaan jenis burung yang tinggi. Wetlands International melaporkan tidak kurang dari 156 jenis burung memanfaatkan daerah ini. Dua di antaranya merupakan jenis yang tergolong langka, yaitu bangau storm (Ciconia stormi) dan enggang (Rhyticeros Corrugatus). 

Terdapat 17 jenis yang terdaftar dalam Appendix II CITES di antaranya adalah elang-alap cina (Accipiter soloensis), elang-alap jambul (Accipiter trivirgatus), elang-alap jepang (Accipiter gularis), kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris), dan elang brontok (Spizaetus cirrhatus).

Ancaman

Tujuan utama menjaga dan mengembangkan Cagar Biosfer GSK-BB adalah untuk membangun hubungan yang seimbang antara manusia, alam, dan lingkungan. Hal ini mencakup serta memastikan pasokan sumber daya alam dan mendorong pembangunan sosio-ekonomi berkelanjutan, serta melestarikan keanekaragaman budaya dan biologi. 

Namun, tekanan dan ancaman yang signifikan seperti pembalakan liar, perburuan liar, penangkapan ikan berlebihan, perambahan hutan, serta kebakaran hutan dan lahan gambut akibat cara tebang dan bakar. Selain itu, ekspansi pertanian yang tidak berkelanjutan, konversi lahan untuk pertanian, dan drainase yang tidak terkendali semakin mengancam integritas ekologi cagar biosfer. 

Tantangan ini berupaya dijawab melalui pengelolaan berbasis ekosistem, pengelolaan terpadu, dan pendekatan kolaboratif. International Tropical Timber Organization (ITTO) bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) Kementerian Kehutanan kemudian menggagas program yang bertujuan meningkatkan kerangka perencanaan, penguatan kapasitas kelembagaan, dan meningkatkan dukungan pemangku kepentingan terhadap pengelolaan operasional Cagar Biosfer GSK-BB.*

Penulis: Islaminur Pempasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *